Si Badu dan Si Cangkurileng Jadi Simbol Ambisi Bandung di Porprov dan Peparda 2026
BANDUNG | TABLOID CERDAS – Kota Bandung mulai memanaskan semangat menuju Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) XV Jawa Barat dan Pekan Paralimpik Daerah (Peparda) VII Jawa Barat 2026. Tak hanya mempersiapkan diri sebagai tuan rumah, Pemerintah Kota Bandung juga memperkenalkan dua maskot yang membawa pesan sejarah, identitas, dan tekad meraih prestasi.
Dua maskot tersebut adalah Si Badu (Badak Utama) untuk Porprov dan Si Cangkurileng, yang mengambil bentuk burung, untuk Peparda. Keduanya diperkenalkan dalam rangkaian peringatan Hari Olahraga Nasional (Haornas) ke-43 tingkat Kota Bandung di GOR Bandung, Selasa (6/10/2026).
Kehadiran maskot ini bukan sekadar pelengkap seremoni. Pemerintah Kota Bandung ingin membangun antusiasme masyarakat sekaligus memperkuat identitas daerah menjelang pesta olahraga terbesar di tingkat provinsi tersebut.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menjelaskan bahwa pemilihan badak sebagai karakter Si Badu memiliki hubungan simbolis dengan sejarah Kota Bandung. Badak bercula satu disebut pernah menjadi bagian dari kekayaan fauna yang dikaitkan dengan wilayah Bandung. Sosok badak juga memiliki jejak simbolik dalam identitas kota, termasuk pernah digunakan sebagai salah satu simbol di Balai Kota Bandung.
Menurut Farhan, karakter tersebut diharapkan mampu membangkitkan kembali kebanggaan* masyarakat terhadap prestasi olahraga Kota Bandung.
“Artinya kita ingin mengembalikan kejayaan yang pernah dimiliki oleh Kota Bandung di ajang Porprov,” kata Farhan.
Maskot Bukan Sekadar Pajangan
Dalam sebuah ajang olahraga, maskot memiliki peran lebih luas daripada sekadar identitas visual. Karakter yang mudah dikenali dapat menjadi sarana membangun kedekatan antara penyelenggara, atlet, suporter, dan masyarakat.
Melalui Si Badu dan Si Cangkurileng, Pemkot Bandung ingin menghadirkan identitas yang merepresentasikan semangat kompetisi sekaligus memperkenalkan karakter kota kepada atlet, ofisial, dan pengunjung dari berbagai daerah di Jawa Barat.
Kehadiran kedua maskot juga menjadi bagian dari upaya memperkuat citra Bandung sebagai kota yang memiliki perhatian terhadap olahraga, baik pada kompetisi olahraga umum maupun olahraga bagi atlet paralimpik.
Namun, daya tarik maskot pada akhirnya akan semakin bermakna apabila diikuti dengan kesiapan penyelenggaraan, dukungan masyarakat, serta fasilitas yang mampu menunjang kebutuhan seluruh atlet.
Bandung Tak Hanya Ingin Sukses sebagai Tuan Rumah
Farhan menegaskan, target Kota Bandung dalam Porprov 2026 tidak berhenti pada kelancaran penyelenggaraan. Pemerintah kota juga membidik hasil terbaik dalam persaingan antardaerah di Jawa Barat.
“Kalau Porprov kali ini kami bertekad untuk menjadi yang terbaik di Jawa Barat,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menjadi penegasan bahwa status tuan rumah harus berjalan beriringan dengan kesiapan atlet dan pembinaan olahraga. Prestasi tidak bisa dibangun hanya menjelang pertandingan, tetapi membutuhkan proses latihan, dukungan fasilitas, serta pengelolaan pembinaan yang berkelanjutan.
Di sisi lain, penyelenggaraan Porprov dan Peparda juga membuka peluang untuk memperkuat ekosistem olahraga di Kota Bandung. Ajang ini dapat menjadi momentum untuk meningkatkan partisipasi masyarakat, memperluas perhatian terhadap olahraga paralimpik, dan mendorong tumbuhnya kebanggaan terhadap atlet daerah.
Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Kota Bandung, Sigit Iskandar, menyampaikan bahwa peluncuran maskot merupakan bagian dari strategi memperkenalkan identitas kota sekaligus memperkuat city branding dalam menyambut dua agenda olahraga tersebut.
Dengan identitas yang semakin dikenal, Bandung diharapkan mampu membangun suasana kompetisi yang meriah dan memperkuat daya tarik penyelenggaraan di mata masyarakat.
Pembuktian Dimulai dari Persiapan
Peluncuran Si Badu dan Si Cangkurileng menandai dimulainya babak penting menuju Porprov dan Peparda 2026. Setelah identitas diperkenalkan, pekerjaan berikutnya adalah memastikan seluruh aspek persiapan berjalan sesuai target.
Kesiapan venue, pelayanan bagi atlet dan ofisial, dukungan bagi atlet paralimpik, serta keterlibatan masyarakat akan menjadi bagian penting dalam menentukan keberhasilan agenda tersebut.
Bagi Kota Bandung, Porprov dan Peparda bukan hanya panggung untuk memperebutkan medali. Keduanya juga menjadi kesempatan untuk menunjukkan kualitas penyelenggaraan, memperkuat budaya olahraga, dan membuktikan kemampuan daerah dalam mendukung kompetisi yang inklusif.
Kini, Si Badu dan Si Cangkurileng membawa pesan yang sama: kebanggaan terhadap identitas daerah harus disertai kerja nyata. Sebab, maskot dapat membangkitkan semangat, tetapi prestasi dan keberhasilan penyelenggaraan tetap ditentukan oleh persiapan, kerja sama, dan komitmen seluruh pihak.**(mc)
(Sumber bahan: Siaran Pers Diskominfo Kota Bandung, 6 Oktober 2026)





Posting Komentar